Keuntungan Menjadi Manusia Tahan Uji


Dalam setiap cobaan ataupun pergumulan yang aku hadapi, aku tetap menghadapinya dengan senyum. Tuhan Yesus selalu mengajarkan padaku untuk tetap menjadi manusia tahan uji dan tegar dalam menghadapi pergumulan apapun. Itu yang selalu aku ingat setiap hariku.
Aku tidak pernah mengeluh dan harus menerima segala pergumulan yang aku alami. Itu menjadikanku sebagai manusia dewasa. Manusia yang tidak pernah mengeluh akan pergumulannya, namun menjadi wanita yang selalu tetap mengandalkan kekuatan Tuhan Yesus. Aku mulai merasakan pergumulan yang menjadikanku untuk menjadi hidup yang lebih baik. Di tengah masalah yang aku hadapi, aku tetap tegar walaupun air mata ini membasahi pipi.
Setidaknya aku sudah berusaha untuk tegar dan bertahan dalam setiap cobaan. Indah rasanya ketika tangan Tuhan merangkulku dan memelukku erat dan Ia berkata bahwa:
"Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi dia." 
(Yakobus 1 : 12)
Awalnya aku hanya diam dan tidak bisa berbuat apa-apa. Cukup melihat sikapnya dan menenangkan diri dan menangis di kamar. Yang aku lakukan hanyalah bertanya pada diri sendiri, apakah ada yang salah dalam diriku ? Apakah aku terlahir untuk disakiti oleh sesama saudaraku ? Apakah aku dilahirkan dengan tujuan untuk diberikan masalah seperti ini ? Aku mulai kacau dan beradu perang dengan pikiran dan hatiku. Disaat hatiku goyah dan lemah tanpa harapan, aku menyalahkan Tuhan serta membentak Tuhan. Aku mulai tidak perduli dengan isi Firman Tuhan. Aku mulai merasa Tuhan tidak pernah memperdulikanku, Tuhan tidak menyayangiku. 

Di rumahku, aku mengalami kekacauan, mulai tidak perduli dengan orang rumah, mulai membentak orang tua, mulai bertengkar dengan kedua kakakku. Apa yang ada dibenakku adalah aku terlahir menjadi manusia yang sendiri. Segalanya aku lakukan sendiri, dan aku merasa Tuhan tidak ada dalam hatiku. Sampai suatu hari, aku pernah berpikir, mungkin aku harus mati dan tidak pernah ada dalam rumah ini, agar mereka tidak susah payah mnegurusku ataupun menerima kehadiranku. Terlintas dalam pikiranku adalah aku ingin bunuh diri. 
Alasanku melakukan hal seperti itu adalah ketika aku bertengkar dengan kedua kakakku, mereka selalu menganggapku remeh dan selalu menganggapku rendah. Yang mereka tahu hanyalah aku adalah adik bungsu yang hanya menyusahkan mereka dan kedua orangtuaku. Pernah suatu kali, aku hanya minta tolong pada kakak pertamaku untuk menjemputku di rumah saudaraku. Aku pun punya keinginan untuk akur dan harmonis dengan kedua kakakku. Terkadang aku merasa iri dengan teman-temanku yang hidup akur dengan kakak-kakaknya. Namun disisi lain, hidupku tidak seperti itu. Aku berpikir kalo kakakku akan menjemput aku, namun itu tidak terjadi, yang ada hanyalah kemarahan dan caci maki yang aku dapatkan, aku mulai tahu bahwa aku memang menyusahkan hidup orang lain. Lalu aku pulang ke rumah dengan rasa kesal. Kebetulan di rumahku hanya ada aku dan kakakku yang pertama, Ayah dan Ibuku sedang tidak berada di rumah. Lalu aku mulai bertengakr dengan kakakku, mulai dari adu mulut sampai akhirnya ia mencoba mencekik leherku hingga aku tidak bisa bernafas, dengan tidak terkendali emosiku, aku langsung menendang perutnya lalu aku lari menju kamar Ayah dan Ibuku lalu menguncinya.
Kemarahan dan rasa dendam yang ada di pikiranku. Semua kejadian ini membuatku semakin benci terhadapnya, rasa-rasanya godaan iblis menghantuiku. Lalu aku menangis dalam kesendirian dan aku mulai bertanya sama Tuhan.
"Tuhan, apakah salahku ? Aku sudah berusaha sabar menghadapi saudaraku, tapi apa yang terjadi justru saudaraku mencoba membunuhku. Aku tidak bisa menahan rasa dendam dan kebencian ini padanya. Aku sudah berusaha tegar namun aku tidak kuat."

Aku mulai takut dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku hanya bisa diam, menangis. Aku tidak berani bilang kepada ornagtuaku karena aku takut. Dari situlah aku milai membenci kakakku dan merasa aku harus membencinya. Kemarahan, rasa dendam, rasa kebencian selalu ada di pikiranku ketika aku bertemu dengannya. Aku merasakan hal yang sangat tidak wajar dalam hatiku, perlahan-lahan hidupku semakin berantakan. Terkadang aku merasa aku mampu sendiri melakukan apapun tanpa kedua kakakku dan orangtuaku. Yang membuatku semakin tidak betah di rumah dan semakin kacau adalah kedua orangtuaku selalu memarahiku dan menganggapku yang salah. Mereka selalu memojokkanku, mereka tidak mengerti perasaanku, justru yang aku tahu hanyalah mereka tidak menerima kehadiranku. Sempat berpikir bahwa aku hanyalah anak pungut dan aku bukan siapa-siapa dalam keluarga itu. Mulailah aku menjadi anak yang brutal dan kacau, merasakan pergaulan yang salah, memberontak perkataan orangtua dan kedua kakakku.
Namun, di suatu malam ketika aku sedang tidur, aku bermimpi aku menjadi orang hebat, menajdi orang penuh pengertian serta berdiri diatas mimbar sambil memberikan kesaksian bagi banyak orang. Ketika itu, aku melihat sosok Tuhan Yesus yang memanggilku dan merangkul tanganku. Ia membawaku ke tempat yang indah. Membawaku ke tempat yang jauh dari keluargaku, jauh dari suasana rumahku. Tapi membuatku sangat bosan adalah aku hanya sendiri seperti di dalam hutan yang indah. Lalu Tuhan Yesus berkata, "Senangkah hatimu, jika kamu jauh dari suasana rumahmu ? Senangkah hatimu jika kamu jauh dari keluargamu ? Senangkah hatimu jika kamu mau tinggal di tempat ini ?"
Lalu aku berkata, "Aku cukup senang dengan pemandangan di tempat ini, namun aku tidak mau sendiri. Aku butuh kedua orangtuaku dan kedua kakakku agar tempat ini tidak sunyi."
Lalu Tuhan Yesus mengatakan padaku, "Bukankah kamu senang jika kamu jauh dari keluargamu ? Bukankah kamu senang jika kamu tidak ada di rumahmu ? Bukankah kamu benci dan dendam terhadap keluargamu?"
Aku mulai berpikir bahwa ternyata aku membutuhkan mereka, aku sangat menyayangi mereka. Aku membutuhkan suasana rumahku yang ramai, aku membutuhkan kedua orangtuaku dan kedua kakakku. Mengapa rasa kebencian ini hilang ? Mengapa rasa dendam ini hilang ? Maafkan aku Tuhan, aku membenci kedua ornagtuku, aku membenci kedua kakakku. Itu berarti aku membenci Engkau. Maafkan aku Tuhan.

Lalu Tuhan Yesus berkata, "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata : Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu, mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu." (Lukas 6 :27-28)
Mendengar perkataan Tuhan, aku menangis dan berdiam serta berada di pangkuan Tuhan Yesus. Aku meminta maaf dan memohon ampun kepada Tuhan. Dan tiba-tiba aku terbangun dari tidurku, aku duduk membuka mataku dan melihat sekelilingku. Aku berada di rumahku. Rumah yang penuh dengan suasan ramai dan canda tawa keluargaku.
Aku pun sadar bahwa ketika kita membenci seseorang, hendaknya mendengar perkataan Tuhan bahwa seharusnya kita mengasihi orang-orang yang membenci kita, mencaci maki kita bahkan menganggap kita tidak ada, jutsru kita berdoa bagi mereka. Rasa kebencian, marah, dendamku hilang, akupun langsung menemui kedua kakakku dan kedua ornagtuaku untuk meminta maaf. Mereka pun merasa kaget dan manganggapku aneh, tapi aku tidak perduli. Yang aku inginkan hanyalah mereka tetap bersamaku, berada di sampingku.

Menjadi manusia yang tahan uji merupakan keharusan karena Tuhan suah berfirman dalam hidup kita. Karena dengan kita bersikap tahan uji serta melakukan Firman Tuhan, maka kita memiliki mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah.
*Terima kasih Tuhan, karena Engkau mengetuk hatiku untuk menjadi manusia yang tahan uji. Aku bersyukur dalam setiap pergumulan yang aku hadapi. Aku tetap mengandalkan Tuhan dan selalu tetap bersyukur atas apa yang aku alami.
"Damai sejahtera kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera kuberikan kepadamu,
dan apa yang kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu.
Janganlah gelisah dan gentar hatimu."  (Yohanes 14 :27)

----- Tuhan Yesus Memberkati ------        

0 komentar:

Post a Comment


up